20180422_051522.jpg

(Selepas Subuh diJunglorong)

Selepas subuh saya bertarung melawan kantuk. Saya dekati semesta dengan ceria. Saya asingkan rasa kantuk yang mulai ganas menembus pertahanan diri.

Tidur subuh mewariskan kefakiran, inilah yang saya coba lawan dan taklukkan lantaran kantuk bukan diamini melainkan dikalahkan.

20180430_053002.jpg

Junglorong terus saja memikat hati saya dan membuat akar syukur saya menjalar sampai sukma. Tanah yang begitu asri. Tanah yang begitu subur dan matahari yang masih malu menampakkan diri, sekedar berbagi senyuman, masih bisa saya temukan.

20180430_053002.jpg

Menatap Junglorong ketika pagi sangatlah mengasyikkan. Getaran kedamaian begitu anggun mengabarkan batin.

Sawah yang membentang pelan-pelan memperkenalkan diri, betapa Ilahi telah menganugerahkan keindahan. Menganugerahkan kedamaian. Memperlihatkan keserasian hidup.

Saya menemukan tualang batin. Betapa Junglorong telah menjadi guru bagi saya dalam menerjemah hidup. Betapa perbedaan telah menjadi rahmat yang khidmat. Betapa perbedaan yang saling memperkenalkan diri, pelan-pelan mengajari hati, betapa hidup bersama itu indah dan sangat indah.

20180427_054225.jpg

Pelan-pelan matahari mulai ceria mengenalkan diri. Mulai lihai menepikan gulita dan mulai piawai menanpakkan Junglorong yang indah, damai dan permai.

Betapa matahari semakin punya keberanian menampakkan diri, berbagi terang dan di samping sawah, seorang perempuan menikmati indah pagi dan mengkhidmati pancaran sinar matahari.

Kini saya mulai mengerti mengapa sesepuh Junglorong melarang generasi mudanya untuk tidur pagi, sebab pagi selalu memiliki daya kejut yang antik yang sayang untuk dilewati dengan membenamkan diri dalam dekapan mimpi.

Surat Untuk Junglorong

Junglorong, di tanahmu
Aku mengedipkan mata doa yang pertama
Hadirku disambut adzan dan iqamah yang syahdu

Di tanahmu, Junglorongku. Aku terus saja masuk ke kamar hidupku paling degup. Kucari diriku di masa lalu. Masih kutemukan asri senyummu yang menguntum di pucuk pagi.

Junglorongku, selalu ada yang datang dan pergi. Ada yang sekedar singgah dan ada pula yang menetap lama dan cukup lama. Namun menatap rupamu, Junglorongku adalah kebahagiaanku. Namun mengenalkan keanggunanmu adalah caraku berbahagia menerimamu sebagai hadiah terindahku.

Junglorongku, menjenguk pagimu, kuabadikan dalam foto-fotoku dan kukenalkan pada steemian Indonesia dan steemian manca negara, biar semua tahu kau ibuku dan indahmu kuabadikan dalam puisiku.

Madura, 9 Mei 2018
Ali Fahmi, M.Pd.I||@penasantri